AKU TETAP MILIKMU
Ortago Aires
“Dug dug dug dug...”, suara bedug Magrib
terdengar. Nayla melangkahkan kaki ke masjid yang lumayan jauh dari rumahnya,
untuk salat berjemaah. Wanita cantik yang berhijab itu memang sangat salehah.
Ia adalah seorang putri tunggal dari sepasang suami istri yang hidup
berkecukupan. Ia tidak pernah malalaikan kewajibannya, apalagi jika
bersangkutan dengan Tuhan. Tidak sedikit remaja pria yang setiap hari pergi ke
masjid hanya karena ingin melihat Nayla. Memang ia adalah gadis yang
diidam-idamkan para pria. Tapi Nayla sudah dihitbah oleh seorang lelaki muda
yang tampan dan mapan. Ia bernama Aldhy Rasyid Alfaruq. Selain mementingkan
kehidupan dunia, Aldhy juga bisa mengimbangi dengan kepentingan akhirat. Ia
memang cocok dengan Nayla. Dan insyaallah mereka berjodoh.
Pagi hari, Aldhy menjemput Nayla ke rumah karena
hari ini Nayla ada jam kuliah pagi dan ada ujian anatomi. Sebenarnya, Nayla
tidak mau Aldhy menjemputnya, karena ia khawatir Aldhy merasa tidak nyaman
dengan hal ini. Tapi justru Aldhy merasa sangat bahagia setiap kali ia bersama
Nayla. Ia menemui kedua orang tua Nayla, seperti biasanya. ”Sudah siap Nay?”
tanya Aldhy dengan sangat halus. Nayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Nayla berpamitan dan mencium tangan ayah dan ibunya. Aldhy membukakan pintu
mobil tengah untuk Nayla. Mereka tidak
pernah duduk berdampingan di dalam mobil, bahkan mereka masih belum berani
bertatap dalam dan bersentuhan kulit. Mereka sudah berjanji akan saling menjaga
kehormatan satu sama lain.
Sesampainya di kampus, Nayla turun dari mobil dan
segera menuju ke ruangan. “Jaga diri baik-baik ya Nay. Nanti kalau butuh
apa-apa atau kamu mau pulang, telfon aku aja,” kata Aldhy yang berdiri 1,5 m di
depan Nayla. “Insyaallah Mas, makasih. Nay duluan Mas. Assalamu’alaikum,” ucap
Nayla. “Iya, sama-sama Nay. Wa’alaikumsalam,” jawab Aldhy. Nayla berjalan
menuju ruang kelasnya. Sementara itu Aldhy menuju Rumah Sakit Wira Kusuma,
tempat dimana ia bekerja. Rumah Sakit Wira Kusuma adalah salah satu Rumah Sakit
besar di kota itu. Di perjalanan, Aldhy memikirkan tentang rencana untuk
menghalalkan hubungannya dengan Nayla. Ia sudah berencana untuk menikahi Nayla
setelah Nayla diwisuda, sekitar 3 bulan lagi. Tapi Aldhy butuh persetujuan dari
pihak keluarganya dan keluarga Nayla. Meskipun nantinya Nayla belum siap, Aldhy
tidak keberatan, karena ia sangat menghargai Nayla. Dan ia pun tau kalau Nayla
menghargainya juga. Tak terasa Aldhy sampai di tempat kerjanya. Dan ia memakai
jas dokter dengan sikapnya yang sigap dan tanggap. Lalu ia mengerjakan
aktifitas kerjanya sampai waktu sore.
Dari : Nayla
Assalamu’alalikum. Mas, Nayla minta tolong, 15 menit lagi Nay
jemput di kampus. Nay lagi kurang enak badan.
Kalau Mas nggak sempet, kasih tau aja.
Nayla menunggu balasan SMS dari Aldhy, tapi dari
tadi ia buka tutup HP, tak ada juga balasan SMS. Bodohnya ia menunggu. Ia
nelfon ke rumah, tapi sopirnya lagi nganter ibunya ke rumah tantenya. Sedangkan
buat pesan taksi, dia udah kehabisan uang, yang udah buat beli keperluan bikin
tugas. “Nayla? Belum pulang? Nunggu siapa?” tanya Anisa, teman kampusnya.
“Belum Nis, lagi nunggu Mas Aldhy,” jawab Nayla. “Ya kamu naik taksi aja,”
Anisa memberi saran. “Uangku limit Nis, hehe. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap
Nayla. “Oke,” Anisa pergi dan di bangku taman kampus, hanya tinggal Nayla
seorang.
Sementara itu Aldhy sedang bersama seorang perawat
bernama Nana, sedang menangani pasien. Ia tentu tidak sempat membuka HP nya.
Aldhy juga lupa kalau saat ini adalah jam pulang kuliah Nayla. Dia terlalu
sibuk menangani pasien bersama asistennya, suster Nana. Aldhy dengan suster
Nana memang dekat, tapi menurut Aldhy kedekatannya hanya sebatas rekan dalam
bekerja, tidak lebih. Entah kalau dengan suster Nana sendiri. Sesekali Nayla
menanyakan kedekatan Aldhy dengan suster Nana, namun Aldhy juga meresponnya
biasa saja. Tapi Nayla merasa cemburu saat calon suaminya itu sedang bersama
suster Nana.
Nayla berkali-kali menelfon Aldhy. Tapi tetap saja
tidak diangkat. Padahal badan Nayla udah lemes banget.
30 menit...
40 menit..
50 menit..
1 jam....
Nayla menunggu Aldhy menjemputnya, hingga
terdengar azan Ashar. Nayla menuju masjid, lalu dia salat Ashar. Setelah itu,
ia kembali lagi duduk di bangku taman sambil membaca artikel Islam. Sementara
itu, Aldhy melihat jam tangannya, dan ia baru sadar, itu sudah melewati jam
pulang kuliah Nayla. Ia kembali ke ruangannya dengan cepat dan membuka HP nya.
Aldhy membaca SMS Nayla. Ia sangat khawatir dengan keadaan Nayla sekarang.
Aldhy langsung pergi njemput Nayla. Padahal SMS itu udah satu setengah jam yang
lalu, dan baru terbaca.
Dari : Mas Aldhy
Wa’alaikumsalam.
Maaf banget Nay, baru sempet bales. Aku sekarang
ke kampus Nayla. Nay tunggu ya.
Nayla dari tadi diam aja di mobil. Aldhy merasa
bersalah karena ia ngga bisa ada tepat waktu saat Nayla lagi butuh dia. Aldhy
ngrasa Nayla marah sama dia. “Nay udah nunggu lama? Maafin aku ya,” ucap Aldhy
sambil melihat ke arah Nayla dari cermin spion mobil depan. “Lama. Ya Mas, ngga
papa,” jawab Nayla dengan suara lirih. “Nay marah ya? Maaf ya Nay, tadi lagi
sibuk banget lagi nanganin pasien sama suster Nana,” jelas Aldhy dengan
perlahan. “Ngga marah kok. Ya, Nay tau betul,” jawab Nayla. Aldhy mau bawa
Nayla ke rumah sakit dulu, tapi Nayla ngga mau. Jadi sampai di rumah Nayla,
Aldhy yang langsung turun tangan memeriksa Nayla. Setelah itu Aldhy pamit buat
kembali ke rumah sakit. Aldhy melontarkan senyumnya kepada Nayla yang berada di
atas ranjang tidurnya. Nayla pun membalasnya dengan tatapan matanya yang sayu.
Tiga bulan sudah berlalu. Nayla pun sudah
diwisuda. Seperti rencana yang sebelumnya sudah dirundingkan bersama kedua
belah pihak keluarga, Aldhy berniat meresmikan hubungannya dengan Nayla, gadis
yang ia cintai. Di malam hari yang penuh dengan keheningan, Aldhy bersama kedua
orang tuanya dan kakaknya, bersilaturahmi ke rumah keluarga Nayla. Mereka
merundingkan hari pernikahan Aldhy dan Nayla. Kedua pihak keluarga sepakat
untuk melaksanakan akad nikah Aldhy dan Nayla satu minggu lagi. “Ibu, Ayah,
Aldhy mohon doa restunya. Semoga kami berdua berjodoh dan menjadi keluarga
sakinah, mawadah, wa rohmah,” ucap Aldhy kepada kedua orang tuanya. Begitupun
dengan Nayla. “Nayla mau acara pernikahan kita bagaimana?” tanya Aldhy.
“Sederhana saja Mas, asalkan ijab qabulnya syah, memenuhi rukun,” Aldhy tersenyum
mendengar jawaban Nayla. “Nay? Kamu serius? Pernikahan Mba dulu mewah loh,”
tanya Azmi, kakak Aldhy dan jelasnya. “Iya Mba, aku serius,” jawab Nayla
singkat.
Aldhy dan Nayla duduk di bangku teras rumah Nayla.
Tapi tetap ada pihak ketiga yang ikut serta, supaya tetap terjaga. Azmi duduk
lumayan jauh dari mereka, tapi tetap mengimbau. Aldhy dan Nayla ngobrol dengan
wajah yang sangat bahagia. “Nay? Nay ngga usah cemburu lagi ya tentang suster
Nana. Kalau kita udah nikah, kita saling memiliki seutuhnya. Ngga ada yang lain
yang bisa ganggu kita,” ucap Aldhy. “Amiin. Tapi Mas dan dia setiap hari dekat.
Sedangkan waktu untuk Nay....” Nayla menundukkan kepalanya. “Nay? Buat Nay lebih kok. Kita jangan hitung berapa
lama waktu yang kita miliki untuk kebersamaan kita, tapi bagaimana kita mengisi
waktu itu dengan segala sesuatu yang indah dan bermakna. Nay ngerti kan?” jelas
Aldhy dengan lembut. “Iya Mas,” jawab Nayla lalu ia tersenyum. Dan ternyata
Aldhy mengganti asistennya dengan asisten baru. Suster Nana digantikan oleh
seorang perawat pria bernama Rudi. Nayla pun sangat bahagia dan lega, karena
dengan itu Nayla bisa mengurangi kecemburuannya terhadap apa-apa tentang Aldhy.
Dan ia tidak lagi khawatir dan berburuk sangka bahwasanya Aldhy akan jatuh hati
dengan wanita lain. Padahal Aldhy pun sangat mencemaskan Nayla. Ia pun takut
Nayla jatuh dalam hati lelaki lain. Mereka tidak pernah saling menghilangkan,
namun mereka sama-sama takut kehilangan. Ciyeeee so sweet bangeet deh.
“Saya terima nikahnya Nayla Aqillah Azzahra binti
Tirtawiguna dengan mas kawin tersebut, tunai.”
“Bagaimana saksi?”
“SAH.”
Alhamdulillahirabbil’alamiin, mereka sekarang
sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Nayla mencium tangan Aldhy, dan Aldhy
mencium kening Nayla. Pancaran kebahagiaan dari wajah mereka, sangat terlihat
jelas. Begitupun dengan orang-orang yang berada di tempat itu. Mereka sangat
bersyukur kepada Allah. Karena mereka sangat menantikan peresmian hubungan
Aldhy dan Nayla.
Malam pertama mereka berjalan dengan indah. Nayla
terlihat anggun dan sangat anggun kala ia bersama Aldhy, suaminya. Mereka
berdoa supaya keindahan dalam hubungan mereka tidak hanya ketika awal saja,
namun selamanya. Menjadi sepasang suami istri yang bahagia dunia dan akhirat.
Malam pertama mereka...
“Aku akan melakukan segalanya yang indah kepadamu
saat aku sudah sah menjadi suamimu.”
“Dan akupun akan menuruti dan menerima semua
keindahan yang kamu berikan kepadaku setelah aku sah menjadi istrimu.”
Itu kalimat yang sering mereka ucapkan ketika
mereka dalam proses ta’aruf. Dan kini mereka telah menjadi sepasang suami
istri. Betapa indahnya hidup Aldhy dan Nayla.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun
berganti tahun. Tapi Aldhy dan Nayla belum juga dikaruniai seorang anak.
Padahal mereka sangat mendambakan kehadiran sang buah hati untuk melengkapi
kehidupan mereka. Apalagi Nayla, ia sangat ingin memiliki seorang putra. Ia
merasa belum menjadi istri yang sempurna untuk Aldhy tanpa hadirnya seorang
anak. Tak sedikit orang yang sering membicarakan tentang Nayla yang sampai saat
ini belum mengandung. Aldhy sering berkata kepada Nayla supaya ia tak perlu memedulikan
apa yang orang-orang katakan. Memang Nayla berusaha untuk tidak memedulikan,
namun terkadang ia sedih dan memikirkan apa yang diucapkan orang di luar sana.
Karena biasanya mereka juga mengatakan kepada Aldhy bahwasanya Aldhy disarankan
untuk mencari istri lagi yang dapat memberikannya keturunan. Nayla takut
kehilangan Aldhy. Padahal Aldhy sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan
orang-orang. Ia sangat mencintai Nayla. Dan seiring berjalannya waktu, cintanya
kepada Nayla semakin besar, bukan semakin pudar. Aldhy sering menenangkan Nayla
supaya Nayla tak perlu takut kehilangannya karena ia sangat menyayangi Nayla.
“Maaf Mas, sampai saat ini aku belum bisa mengandung. Dan aku takut dengan apa
yang orang lain katakan,” ucap Nayla yang duduk di atas ranjang sebelah
suaminya. “Nay ngga perlu minta maaf. Kita sabar ya sayang, Allah punya rencana
baik dibalik semua ini. Nay ngga perlu pikirin kata orang. Mas selalu cinta dan
sayang Nay,” jawab Aldhy lalu ia memeluk hangat Nayla. “Tapi pikiran manusia
bisa berubah sewaktu-waktu Mas?” Nayla khawatir. Ia meneteskan air mata. “Nay
pegang janjiku ini ya. Nay dengar. Aldhy, suamimu ini, tetap sayang dan akan
selalu sayang Nay. Nay jangan sedih ya,” ucap Aldhy lalu menghapus air mata
Nayla dan mencium keningnya. Nay tersenyum bahagia.
Pagi hari yang cerah, Nayla sedang menyiapkan
pakaian yang akan dikenakan Aldhy. Aldhy sedang mandi dan setelah itu sholat
Dhuha. Terdengar dering telefon di HP Aldhy. Nayla terpaksa mengangkatnya.
SALSA calling....
Nayla :
“Assalamu’alaikum.”
Salsa :
“Wa’alaikumsalam. Maaf ini siapa?”
Nayla :
“Saya Nayla Mba. Bagaimana Mba?”
Salsa :
“Oh Nayla. Aku mau bicara sama Aldhy Nay.”
Nayla :
“Maaf Mba, Mas Aldhy sedang salat. Ada yang bisa saya sampaikan?”
Salsa :
“Oh gitu. Ngga usah Nay. Nanti Aldhy suruh telfon aku aja ya.”
Nayla :
“Insyaallah Mba.”
Salsa :
“Makasih Nay. Assalamu’alaikum.”
Nayla :
“Ya. Wa’alaikumsalam.”
Perasaan Nayla tidak enak. Ia merasa Salsa
sepertinya ada kepentingan pribadi dengan Aldhy. Nayla berpikir ini pertanda
kalau Aldhy udah lupa dengan janjinya, dan ia menyukai wanita lain. Nayla
semakin cemas.
Nayla ngasih tau Aldhy kalau tadi Salsa telfon dia dan dia suruh telfon balik. Aldhy
langsung telfon Salsa. Tapi Nayla heran, kenapa Aldhy nelfonnya harus jauh dari
Nayla, seperti ada sesuatu yang disembunyiin. Biasanya Aldhy setiap nelfon
siapapun selalu di depan Nayla. Tapi kali ini dia malah sengaja menjauh. Nayla
langsung memasang wajah lesu. Tapi ia berusaha untuk bersikap seperti biasanya
kepada Aldhy.
Setiap malam Salsa selalu datang ke rumah menemui
Aldhy. Mereka ngobrol berdua, bahkan Nayla pun disuruh untuk istirahat saja dan
ngga boleh ikut ngobrol. Nayla semakin tidak kuat dengan sikap Aldhy dan Salsa.
Jika hanya urusan pekerjaan, masa harus sampai mengganggu waktu istirahat.
Nayla mulai bersikap diam kepada Aldhy. “Kamu bisa jaga rahasia kita kan ?”
tanya Aldhy kepada Salsa. “Pasti deh Al.
For you everything is gonna be okay,” jawab Salsa. “Baguslah,”
ucap Aldhy. “Mana mungkin aku membocorkan rahasia kita berdua,” jawab Salsa.
Aldhy
tersenyum lega mendengar jawaban Salsa yang begitu meyakinkan hatinya. Akhir-akhir
ini, setiap Aldhy pulang kerja, Nayla menyambutnya tidak seperti biasanya.
Wajah Nayla cemberut dan jika ditanya agak sungkan menjawab. Aldhy ngrasa Nayla
beda. Dan ia mencoba mengajak bicara Nayla baik-baik. ”Nay kenapa? Kok diem terus si,” ucap Aldhy dengan
perhatian. Nayla tetep aja diem ngga ngrespon apa-apa. Aldhy tetep sabar dan
mendekati Nayla. “Nayla sayang? Bicara dong. Kangen suara kamu nih. Kamu kenapa
si?”. Nayla menjawab, “Mas ada kepentingan apa sama Mba Salsa? Setiap malem
ketemuan.” Aldhy berkata sambil mengelus kepala Nayla, “Nay, kami ada
kepentingan aja,” Nayla langsung beranjak dari duduknya. Kemudian ia tidur dan
nyuekin Aldhy. Aldhy cuma tersenyum-senyum sendiri. Lalu ia menyelimuti Nayla.
Siang hari Nayla ngikutin Aldhy sama Salsa. Mereka
pergi ke sebuah rumah makan lesehan. Aldhy dan Salsa terlihat sumringah banget.
Nayla ngga nyangka, Aldhy berani jalan berduaan bareng perempuan lain di
belakang Nayla. Nayla langsung menangis dan kembali ke rumah. Ia udah ngga sanggup
ngliat suaminya bersama perempuan lain.
Sorenya, Nayla ngrasa ngga enak badan. Ia ngga
ngasih tau Aldhy, karena dia masih ngambek. Ia ditemani Yu Tinah, pembantunya,
ke rumah sakit yang deket, RS Kencana Suci. Dokter ngga bilang kalau Nayla
sakit. Dan Nayla disuruh test urin. Dan menurut hasil test, Nayla positif
hamil. Nayla sangat bahagia. Dokter membuat surat keterangan bahwa Nayla sedang
mengandung sekitar 6 minggu. Nayla sangat bersyukur dengan kehamilannya. Tapi
dia juga masih memikirkan Aldhy. Dia juga sedih, karena di saat dia baru
terbukti mengandung, Aldhy malah sedang dekat dengan wanita lain.
Nayla belum mau ngasih tau Aldhy kalau dia lagi
hamil. Ia masih agak canggung bicara sama Aldhy. Ya meskipun Aldhy berkali-kali
mbujuk Nayla bicara dan manjain Nayla. Tapi Nayla ngiranya itu cuma
akal-akalannya Aldhy aja. Nayla terlalu cemburu, jadi dia masih kebawa sama
kecemburuannya itu. Sampai-sampai kali ini, Aldhy pulang kerja malah Nayla
hanya di kamar aja, ngga nyambut Aldhy. Aldhy jadi semakin bingung. “Kok Nayla
jadi beda? Aku pulang kerja ngga disambut. Ada apa si Nay?” tanya Aldhy kepada
Nayla yang lagi tiduran sambil baca majalah Islam. Nayla tak menjawab sepatah
katapun. Ia meletakkan majalah lalu keluar dari kamar menuju ruang tengah. Hati
Nayla benar-benar sakit atas apa yang ia saksikan antara suaminya dengan
perempuan lain. Bagi Nayla, kedekatan mereka itu terlalu berlebihan. Dan
akhir-akhir ini, Aldhy selalu pulang malam. Tentu saja Nayla curiga.
Keesokan harinya, saat sore hari, ada seseorang
bercadar memaksa Nayla untuk masuk ke dalam mobil kemudian dibawanya ke suatu
tempat. Tempat itu sangat jauh dari daerah rumah Nayla. Ia diturunkan di tepi
sebuah danau. Dan di tepi danau itu sudah dihias dengan dekorasi yang sangat
indah. Nayla berdiri di tepi danau dan ia bingung, kenapa ia dibawa ke tempat
ini. Tapi ia ngga berpikir panjang lagi. Semilir angin yang sepoi-sepoi,
rindangnya pepohonan nan hijau, membuat suasana menjadi nyaman dan hening.
Nayla benar-benar menikmati suasana ini. Karena memang sudah lama sekali ia
ingin ke danau dengan suasana yang semacam ini. Nayla merasa ia benar-banar
dalam surga kehidupan.
Saat Nayla menikmati suasana dengan nyaman,
tiba-tiba air danau itu membentuk susunan kata dalam gambar.
SELAMAT ULANG TAHUN
PERNIKAHAN YANG KE-2
BARAKALLAH
Nayla benar-benar terkejut dengan semua ini. Aldhy
datang membawa serangkai bunga tulip putih bertangkai ganda sambil menyanyikan
lagu “SEPANJANG HIDUPKU” by Maher Zain. Aldhy memberikan bunga itu untuk
Nayla. Lalu ia mencium Nayla dengan penuh kasih sayang. Mata Nayla
berkaca-kaca. Ia tak menyangka semuanya akan seperti ini. “Semoga di ulang
tahun pernikahan kita yang kedua ini, Allah akan memberikan segala sesuatu yang
lebih baik lagi untuk kita, sayang. Barakallah. Dan ini mukenah dan jilbab
sutera buat istri Mas yang cantik,” ucap Aldhy dengan pandangannya dalam kepada
Nayla. Jujur Nayla merasa malu dan bodoh, karena ia tidak mengingat hari ulang
tahun pernikahannya. Nayla langsung memeluk Aldhy dengan erat dan tiba-tiba
...dorr..doorrrr..dorrrr... Salsa meletuskan balon. Begitupun keluarga Nayla
dan Aldhy. Mereka datang menghampiri Aldhy dan Nayla yang sedang dalam suasana
mesra. “Jadi Mas Aldhy sama Mba Salsa itu.....” ucap Nayla sedikit kaget. “Iya
Nay. Salsa yang bantuin Mas untuk ini Nay. Kan emang ini profesinya dia kan?”
kata Aldhy. “Tapi yang nyusun dekorasi dan planningnya Aldhy sendiri loh
Nay. Sampai-sampai dia kecapean pulang malem,” ucap Salsa. “Mas Aldhy....?
Maafin aku. Aku udah syu’udzon sama Mas Aldhy dan Mba Salsa. Aku juga bersikap
ngga baik sama Mas Aldhy,” ucap Nayla di genggaman erat tangan Aldhy. “Iya Nay.
Mas juga minta maaf udah buat kamu cemas,” jawab Aldhy. “Maaf Mas, aku selalu
nggak inget hari pernikahan kita. Mas Aldhy yang selalu inget. Kejutannya beda
sama tahun lalu sih. Maksih buat semuanya, keluarga Nayla dan Mas Aldhy. Nay
ada kabar bahagia,” ucap Nayla dengan suara lembut. Semua orang penasaran dan
serempak bertanya, “Apa itu Nay?” Nayla menjawab,” Nay sekarang sedang
mengandung,” semua orang bahagia. Apalagi Aldhy. Ia langsung memeluk erat
istrinya. “Ini rencana Allah Nay. Makasih sayang,” ucap Aldhy. “Alhamdulillah
Mas. Aku masih takut kamu jadi milik orang lain,” kata Nayla.”Sayang... Kamu
tetap milikku. Dan aku tetap milikmu. Aku janji itu untuk selamanya,” ucap
Aldhy memandang dalam Nayla dan meyakinkannya. Naylapun yakin dan percaya
kepada Aldhy. Mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rohmah, tanpa
diselimuti prasangka buruk satu sama lain .
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar