kumpulan cerpen ortago

Jumat, 09 Februari 2018

Cerpen Romantis "Aku Tetap Milikmu"

AKU TETAP MILIKMU
Ortago Aires

“Dug dug dug dug...”, suara bedug Magrib terdengar. Nayla melangkahkan kaki ke masjid yang lumayan jauh dari rumahnya, untuk salat berjemaah. Wanita cantik yang berhijab itu memang sangat salehah. Ia adalah seorang putri tunggal dari sepasang suami istri yang hidup berkecukupan. Ia tidak pernah malalaikan kewajibannya, apalagi jika bersangkutan dengan Tuhan. Tidak sedikit remaja pria yang setiap hari pergi ke masjid hanya karena ingin melihat Nayla. Memang ia adalah gadis yang diidam-idamkan para pria. Tapi Nayla sudah dihitbah oleh seorang lelaki muda yang tampan dan mapan. Ia bernama Aldhy Rasyid Alfaruq. Selain mementingkan kehidupan dunia, Aldhy juga bisa mengimbangi dengan kepentingan akhirat. Ia memang cocok dengan Nayla. Dan insyaallah mereka berjodoh.
Pagi hari, Aldhy menjemput Nayla ke rumah karena hari ini Nayla ada jam kuliah pagi dan ada ujian anatomi. Sebenarnya, Nayla tidak mau Aldhy menjemputnya, karena ia khawatir Aldhy merasa tidak nyaman dengan hal ini. Tapi justru Aldhy merasa sangat bahagia setiap kali ia bersama Nayla. Ia menemui kedua orang tua Nayla, seperti biasanya. ”Sudah siap Nay?” tanya Aldhy dengan sangat halus. Nayla tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Nayla berpamitan dan mencium tangan ayah dan ibunya. Aldhy membukakan pintu mobil  tengah untuk Nayla. Mereka tidak pernah duduk berdampingan di dalam mobil, bahkan mereka masih belum berani bertatap dalam dan bersentuhan kulit. Mereka sudah berjanji akan saling menjaga kehormatan satu sama lain.
Sesampainya di kampus, Nayla turun dari mobil dan segera menuju ke ruangan. “Jaga diri baik-baik ya Nay. Nanti kalau butuh apa-apa atau kamu mau pulang, telfon aku aja,” kata Aldhy yang berdiri 1,5 m di depan Nayla. “Insyaallah Mas, makasih. Nay duluan Mas. Assalamu’alaikum,” ucap Nayla. “Iya, sama-sama Nay. Wa’alaikumsalam,” jawab Aldhy. Nayla berjalan menuju ruang kelasnya. Sementara itu Aldhy menuju Rumah Sakit Wira Kusuma, tempat dimana ia bekerja. Rumah Sakit Wira Kusuma adalah salah satu Rumah Sakit besar di kota itu. Di perjalanan, Aldhy memikirkan tentang rencana untuk menghalalkan hubungannya dengan Nayla. Ia sudah berencana untuk menikahi Nayla setelah Nayla diwisuda, sekitar 3 bulan lagi. Tapi Aldhy butuh persetujuan dari pihak keluarganya dan keluarga Nayla. Meskipun nantinya Nayla belum siap, Aldhy tidak keberatan, karena ia sangat menghargai Nayla. Dan ia pun tau kalau Nayla menghargainya juga. Tak terasa Aldhy sampai di tempat kerjanya. Dan ia memakai jas dokter dengan sikapnya yang sigap dan tanggap. Lalu ia mengerjakan aktifitas kerjanya sampai waktu sore.
Dari     : Nayla
Assalamu’alalikum. Mas, Nayla minta tolong, 15 menit lagi Nay jemput di kampus. Nay lagi kurang enak badan.  Kalau Mas nggak sempet, kasih tau aja.
Nayla menunggu balasan SMS dari Aldhy, tapi dari tadi ia buka tutup HP, tak ada juga balasan SMS. Bodohnya ia menunggu. Ia nelfon ke rumah, tapi sopirnya lagi nganter ibunya ke rumah tantenya. Sedangkan buat pesan taksi, dia udah kehabisan uang, yang udah buat beli keperluan bikin tugas. “Nayla? Belum pulang? Nunggu siapa?” tanya Anisa, teman kampusnya. “Belum Nis, lagi nunggu Mas Aldhy,” jawab Nayla. “Ya kamu naik taksi aja,” Anisa memberi saran. “Uangku limit Nis, hehe. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Nayla. “Oke,” Anisa pergi dan di bangku taman kampus, hanya tinggal Nayla seorang.
Sementara itu Aldhy sedang bersama seorang perawat bernama Nana, sedang menangani pasien. Ia tentu tidak sempat membuka HP nya. Aldhy juga lupa kalau saat ini adalah jam pulang kuliah Nayla. Dia terlalu sibuk menangani pasien bersama asistennya, suster Nana. Aldhy dengan suster Nana memang dekat, tapi menurut Aldhy kedekatannya hanya sebatas rekan dalam bekerja, tidak lebih. Entah kalau dengan suster Nana sendiri. Sesekali Nayla menanyakan kedekatan Aldhy dengan suster Nana, namun Aldhy juga meresponnya biasa saja. Tapi Nayla merasa cemburu saat calon suaminya itu sedang bersama suster Nana.
Nayla berkali-kali menelfon Aldhy. Tapi tetap saja tidak diangkat. Padahal badan Nayla udah lemes banget.
30 menit...
40 menit..
50 menit..
1 jam....
Nayla menunggu Aldhy menjemputnya, hingga terdengar azan Ashar. Nayla menuju masjid, lalu dia salat Ashar. Setelah itu, ia kembali lagi duduk di bangku taman sambil membaca artikel Islam. Sementara itu, Aldhy melihat jam tangannya, dan ia baru sadar, itu sudah melewati jam pulang kuliah Nayla. Ia kembali ke ruangannya dengan cepat dan membuka HP nya. Aldhy membaca SMS Nayla. Ia sangat khawatir dengan keadaan Nayla sekarang. Aldhy langsung pergi njemput Nayla. Padahal SMS itu udah satu setengah jam yang lalu, dan baru terbaca.
Dari     : Mas Aldhy
Wa’alaikumsalam.
Maaf banget Nay, baru sempet bales. Aku sekarang ke kampus Nayla. Nay tunggu ya.
Nayla dari tadi diam aja di mobil. Aldhy merasa bersalah karena ia ngga bisa ada tepat waktu saat Nayla lagi butuh dia. Aldhy ngrasa Nayla marah sama dia. “Nay udah nunggu lama? Maafin aku ya,” ucap Aldhy sambil melihat ke arah Nayla dari cermin spion mobil depan. “Lama. Ya Mas, ngga papa,” jawab Nayla dengan suara lirih. “Nay marah ya? Maaf ya Nay, tadi lagi sibuk banget lagi nanganin pasien sama suster Nana,” jelas Aldhy dengan perlahan. “Ngga marah kok. Ya, Nay tau betul,” jawab Nayla. Aldhy mau bawa Nayla ke rumah sakit dulu, tapi Nayla ngga mau. Jadi sampai di rumah Nayla, Aldhy yang langsung turun tangan memeriksa Nayla. Setelah itu Aldhy pamit buat kembali ke rumah sakit. Aldhy melontarkan senyumnya kepada Nayla yang berada di atas ranjang tidurnya. Nayla pun membalasnya dengan tatapan matanya yang sayu.
Tiga bulan sudah berlalu. Nayla pun sudah diwisuda. Seperti rencana yang sebelumnya sudah dirundingkan bersama kedua belah pihak keluarga, Aldhy berniat meresmikan hubungannya dengan Nayla, gadis yang ia cintai. Di malam hari yang penuh dengan keheningan, Aldhy bersama kedua orang tuanya dan kakaknya, bersilaturahmi ke rumah keluarga Nayla. Mereka merundingkan hari pernikahan Aldhy dan Nayla. Kedua pihak keluarga sepakat untuk melaksanakan akad nikah Aldhy dan Nayla satu minggu lagi. “Ibu, Ayah, Aldhy mohon doa restunya. Semoga kami berdua berjodoh dan menjadi keluarga sakinah, mawadah, wa rohmah,” ucap Aldhy kepada kedua orang tuanya. Begitupun dengan Nayla. “Nayla mau acara pernikahan kita bagaimana?” tanya Aldhy. “Sederhana saja Mas, asalkan ijab qabulnya syah, memenuhi rukun,” Aldhy tersenyum mendengar jawaban Nayla. “Nay? Kamu serius? Pernikahan Mba dulu mewah loh,” tanya Azmi, kakak Aldhy dan jelasnya. “Iya Mba, aku serius,” jawab Nayla singkat.
Aldhy dan Nayla duduk di bangku teras rumah Nayla. Tapi tetap ada pihak ketiga yang ikut serta, supaya tetap terjaga. Azmi duduk lumayan jauh dari mereka, tapi tetap mengimbau. Aldhy dan Nayla ngobrol dengan wajah yang sangat bahagia. “Nay? Nay ngga usah cemburu lagi ya tentang suster Nana. Kalau kita udah nikah, kita saling memiliki seutuhnya. Ngga ada yang lain yang bisa ganggu kita,” ucap Aldhy. “Amiin. Tapi Mas dan dia setiap hari dekat. Sedangkan waktu untuk Nay....” Nayla menundukkan kepalanya. “Nay?  Buat Nay lebih kok. Kita jangan hitung berapa lama waktu yang kita miliki untuk kebersamaan kita, tapi bagaimana kita mengisi waktu itu dengan segala sesuatu yang indah dan bermakna. Nay ngerti kan?” jelas Aldhy dengan lembut. “Iya Mas,” jawab Nayla lalu ia tersenyum. Dan ternyata Aldhy mengganti asistennya dengan asisten baru. Suster Nana digantikan oleh seorang perawat pria bernama Rudi. Nayla pun sangat bahagia dan lega, karena dengan itu Nayla bisa mengurangi kecemburuannya terhadap apa-apa tentang Aldhy. Dan ia tidak lagi khawatir dan berburuk sangka bahwasanya Aldhy akan jatuh hati dengan wanita lain. Padahal Aldhy pun sangat mencemaskan Nayla. Ia pun takut Nayla jatuh dalam hati lelaki lain. Mereka tidak pernah saling menghilangkan, namun mereka sama-sama takut kehilangan. Ciyeeee so sweet bangeet deh.
“Saya terima nikahnya Nayla Aqillah Azzahra binti Tirtawiguna dengan mas kawin tersebut, tunai.”
“Bagaimana saksi?”
“SAH.”
Alhamdulillahirabbil’alamiin, mereka sekarang sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Nayla mencium tangan Aldhy, dan Aldhy mencium kening Nayla. Pancaran kebahagiaan dari wajah mereka, sangat terlihat jelas. Begitupun dengan orang-orang yang berada di tempat itu. Mereka sangat bersyukur kepada Allah. Karena mereka sangat menantikan peresmian hubungan Aldhy dan Nayla.
Malam pertama mereka berjalan dengan indah. Nayla terlihat anggun dan sangat anggun kala ia bersama Aldhy, suaminya. Mereka berdoa supaya keindahan dalam hubungan mereka tidak hanya ketika awal saja, namun selamanya. Menjadi sepasang suami istri yang bahagia dunia dan akhirat. Malam pertama mereka... 
“Aku akan melakukan segalanya yang indah kepadamu saat aku sudah sah menjadi suamimu.”
“Dan akupun akan menuruti dan menerima semua keindahan yang kamu berikan kepadaku setelah aku sah menjadi istrimu.”
Itu kalimat yang sering mereka ucapkan ketika mereka dalam proses ta’aruf. Dan kini mereka telah menjadi sepasang suami istri. Betapa indahnya hidup Aldhy dan Nayla.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Tapi Aldhy dan Nayla belum juga dikaruniai seorang anak. Padahal mereka sangat mendambakan kehadiran sang buah hati untuk melengkapi kehidupan mereka. Apalagi Nayla, ia sangat ingin memiliki seorang putra. Ia merasa belum menjadi istri yang sempurna untuk Aldhy tanpa hadirnya seorang anak. Tak sedikit orang yang sering membicarakan tentang Nayla yang sampai saat ini belum mengandung. Aldhy sering berkata kepada Nayla supaya ia tak perlu memedulikan apa yang orang-orang katakan. Memang Nayla berusaha untuk tidak memedulikan, namun terkadang ia sedih dan memikirkan apa yang diucapkan orang di luar sana. Karena biasanya mereka juga mengatakan kepada Aldhy bahwasanya Aldhy disarankan untuk mencari istri lagi yang dapat memberikannya keturunan. Nayla takut kehilangan Aldhy. Padahal Aldhy sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan orang-orang. Ia sangat mencintai Nayla. Dan seiring berjalannya waktu, cintanya kepada Nayla semakin besar, bukan semakin pudar. Aldhy sering menenangkan Nayla supaya Nayla tak perlu takut kehilangannya karena ia sangat menyayangi Nayla. “Maaf Mas, sampai saat ini aku belum bisa mengandung. Dan aku takut dengan apa yang orang lain katakan,” ucap Nayla yang duduk di atas ranjang sebelah suaminya. “Nay ngga perlu minta maaf. Kita sabar ya sayang, Allah punya rencana baik dibalik semua ini. Nay ngga perlu pikirin kata orang. Mas selalu cinta dan sayang Nay,” jawab Aldhy lalu ia memeluk hangat Nayla. “Tapi pikiran manusia bisa berubah sewaktu-waktu Mas?” Nayla khawatir. Ia meneteskan air mata. “Nay pegang janjiku ini ya. Nay dengar. Aldhy, suamimu ini, tetap sayang dan akan selalu sayang Nay. Nay jangan sedih ya,” ucap Aldhy lalu menghapus air mata Nayla dan mencium keningnya. Nay tersenyum bahagia.
Pagi hari yang cerah, Nayla sedang menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Aldhy. Aldhy sedang mandi dan setelah itu sholat Dhuha. Terdengar dering telefon di HP Aldhy. Nayla terpaksa mengangkatnya.
SALSA calling....
Nayla   : “Assalamu’alaikum.”
Salsa    : “Wa’alaikumsalam. Maaf ini siapa?”
Nayla   : “Saya Nayla Mba. Bagaimana Mba?”
Salsa    : “Oh Nayla. Aku mau bicara sama Aldhy Nay.”
Nayla   : “Maaf Mba, Mas Aldhy sedang salat. Ada yang bisa saya sampaikan?”
Salsa    : “Oh gitu. Ngga usah Nay. Nanti Aldhy suruh telfon aku aja ya.”
Nayla   : “Insyaallah Mba.”
Salsa    : “Makasih Nay. Assalamu’alaikum.”
Nayla   : “Ya. Wa’alaikumsalam.”
Perasaan Nayla tidak enak. Ia merasa Salsa sepertinya ada kepentingan pribadi dengan Aldhy. Nayla berpikir ini pertanda kalau Aldhy udah lupa dengan janjinya, dan ia menyukai wanita lain. Nayla semakin cemas.
Nayla ngasih tau Aldhy kalau tadi Salsa  telfon dia dan dia suruh telfon balik. Aldhy langsung telfon Salsa. Tapi Nayla heran, kenapa Aldhy nelfonnya harus jauh dari Nayla, seperti ada sesuatu yang disembunyiin. Biasanya Aldhy setiap nelfon siapapun selalu di depan Nayla. Tapi kali ini dia malah sengaja menjauh. Nayla langsung memasang wajah lesu. Tapi ia berusaha untuk bersikap seperti biasanya kepada Aldhy.
Setiap malam Salsa selalu datang ke rumah menemui Aldhy. Mereka ngobrol berdua, bahkan Nayla pun disuruh untuk istirahat saja dan ngga boleh ikut ngobrol. Nayla semakin tidak kuat dengan sikap Aldhy dan Salsa. Jika hanya urusan pekerjaan, masa harus sampai mengganggu waktu istirahat. Nayla mulai bersikap diam kepada Aldhy. “Kamu bisa jaga rahasia kita kan ?” tanya Aldhy kepada Salsa. “Pasti deh Al.  For you everything is gonna be okay,” jawab Salsa. “Baguslah,” ucap Aldhy. “Mana mungkin aku membocorkan rahasia kita berdua,” jawab Salsa.
 Aldhy tersenyum lega mendengar jawaban Salsa yang begitu meyakinkan hatinya. Akhir-akhir ini, setiap Aldhy pulang kerja, Nayla menyambutnya tidak seperti biasanya. Wajah Nayla cemberut dan jika ditanya agak sungkan menjawab. Aldhy ngrasa Nayla beda. Dan ia mencoba mengajak bicara Nayla baik-baik. ”Nay kenapa?  Kok diem terus si,” ucap Aldhy dengan perhatian. Nayla tetep aja diem ngga ngrespon apa-apa. Aldhy tetep sabar dan mendekati Nayla. “Nayla sayang? Bicara dong. Kangen suara kamu nih. Kamu kenapa si?”. Nayla menjawab, “Mas ada kepentingan apa sama Mba Salsa? Setiap malem ketemuan.” Aldhy berkata sambil mengelus kepala Nayla, “Nay, kami ada kepentingan aja,” Nayla langsung beranjak dari duduknya. Kemudian ia tidur dan nyuekin Aldhy. Aldhy cuma tersenyum-senyum sendiri. Lalu ia menyelimuti Nayla.
Siang hari Nayla ngikutin Aldhy sama Salsa. Mereka pergi ke sebuah rumah makan lesehan. Aldhy dan Salsa terlihat sumringah banget. Nayla ngga nyangka, Aldhy berani jalan berduaan bareng perempuan lain di belakang Nayla. Nayla langsung menangis dan kembali ke rumah. Ia udah ngga sanggup ngliat suaminya bersama perempuan lain.
Sorenya, Nayla ngrasa ngga enak badan. Ia ngga ngasih tau Aldhy, karena dia masih ngambek. Ia ditemani Yu Tinah, pembantunya, ke rumah sakit yang deket, RS Kencana Suci. Dokter ngga bilang kalau Nayla sakit. Dan Nayla disuruh test urin. Dan menurut hasil test, Nayla positif hamil. Nayla sangat bahagia. Dokter membuat surat keterangan bahwa Nayla sedang mengandung sekitar 6 minggu. Nayla sangat bersyukur dengan kehamilannya. Tapi dia juga masih memikirkan Aldhy. Dia juga sedih, karena di saat dia baru terbukti mengandung, Aldhy malah sedang dekat dengan wanita lain.
Nayla belum mau ngasih tau Aldhy kalau dia lagi hamil. Ia masih agak canggung bicara sama Aldhy. Ya meskipun Aldhy berkali-kali mbujuk Nayla bicara dan manjain Nayla. Tapi Nayla ngiranya itu cuma akal-akalannya Aldhy aja. Nayla terlalu cemburu, jadi dia masih kebawa sama kecemburuannya itu. Sampai-sampai kali ini, Aldhy pulang kerja malah Nayla hanya di kamar aja, ngga nyambut Aldhy. Aldhy jadi semakin bingung. “Kok Nayla jadi beda? Aku pulang kerja ngga disambut. Ada apa si Nay?” tanya Aldhy kepada Nayla yang lagi tiduran sambil baca majalah Islam. Nayla tak menjawab sepatah katapun. Ia meletakkan majalah lalu keluar dari kamar menuju ruang tengah. Hati Nayla benar-benar sakit atas apa yang ia saksikan antara suaminya dengan perempuan lain. Bagi Nayla, kedekatan mereka itu terlalu berlebihan. Dan akhir-akhir ini, Aldhy selalu pulang malam. Tentu saja Nayla curiga.
Keesokan harinya, saat sore hari, ada seseorang bercadar memaksa Nayla untuk masuk ke dalam mobil kemudian dibawanya ke suatu tempat. Tempat itu sangat jauh dari daerah rumah Nayla. Ia diturunkan di tepi sebuah danau. Dan di tepi danau itu sudah dihias dengan dekorasi yang sangat indah. Nayla berdiri di tepi danau dan ia bingung, kenapa ia dibawa ke tempat ini. Tapi ia ngga berpikir panjang lagi. Semilir angin yang sepoi-sepoi, rindangnya pepohonan nan hijau, membuat suasana menjadi nyaman dan hening. Nayla benar-benar menikmati suasana ini. Karena memang sudah lama sekali ia ingin ke danau dengan suasana yang semacam ini. Nayla merasa ia benar-banar dalam surga kehidupan.
Saat Nayla menikmati suasana dengan nyaman, tiba-tiba air danau itu membentuk susunan kata dalam  gambar.
SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN YANG KE-2
BARAKALLAH
Nayla benar-benar terkejut dengan semua ini. Aldhy datang membawa serangkai bunga tulip putih bertangkai ganda sambil menyanyikan lagu “SEPANJANG HIDUPKU” by Maher Zain. Aldhy memberikan bunga itu untuk Nayla. Lalu ia mencium Nayla dengan penuh kasih sayang. Mata Nayla berkaca-kaca. Ia tak menyangka semuanya akan seperti ini. “Semoga di ulang tahun pernikahan kita yang kedua ini, Allah akan memberikan segala sesuatu yang lebih baik lagi untuk kita, sayang. Barakallah. Dan ini mukenah dan jilbab sutera buat istri Mas yang cantik,” ucap Aldhy dengan pandangannya dalam kepada Nayla. Jujur Nayla merasa malu dan bodoh, karena ia tidak mengingat hari ulang tahun pernikahannya. Nayla langsung memeluk Aldhy dengan erat dan tiba-tiba ...dorr..doorrrr..dorrrr... Salsa meletuskan balon. Begitupun keluarga Nayla dan Aldhy. Mereka datang menghampiri Aldhy dan Nayla yang sedang dalam suasana mesra. “Jadi Mas Aldhy sama Mba Salsa itu.....” ucap Nayla sedikit kaget. “Iya Nay. Salsa yang bantuin Mas untuk ini Nay. Kan emang ini profesinya dia kan?” kata Aldhy. “Tapi yang nyusun dekorasi dan planningnya Aldhy sendiri loh Nay. Sampai-sampai dia kecapean pulang malem,” ucap Salsa. “Mas Aldhy....? Maafin aku. Aku udah syu’udzon sama Mas Aldhy dan Mba Salsa. Aku juga bersikap ngga baik sama Mas Aldhy,” ucap Nayla di genggaman erat tangan Aldhy. “Iya Nay. Mas juga minta maaf udah buat kamu cemas,” jawab Aldhy. “Maaf Mas, aku selalu nggak inget hari pernikahan kita. Mas Aldhy yang selalu inget. Kejutannya beda sama tahun lalu sih. Maksih buat semuanya, keluarga Nayla dan Mas Aldhy. Nay ada kabar bahagia,” ucap Nayla dengan suara lembut. Semua orang penasaran dan serempak bertanya, “Apa itu Nay?” Nayla menjawab,” Nay sekarang sedang mengandung,” semua orang bahagia. Apalagi Aldhy. Ia langsung memeluk erat istrinya. “Ini rencana Allah Nay. Makasih sayang,” ucap Aldhy. “Alhamdulillah Mas. Aku masih takut kamu jadi milik orang lain,” kata Nayla.”Sayang... Kamu tetap milikku. Dan aku tetap milikmu. Aku janji itu untuk selamanya,” ucap Aldhy memandang dalam Nayla dan meyakinkannya. Naylapun yakin dan percaya kepada Aldhy. Mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rohmah, tanpa diselimuti prasangka buruk satu sama lain .
SELESAI



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar